KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti keluarga besar PT Sango Ceramics Indonesia saat menggelar buka puasa bersama ratusan pegawai dan masyarakat, Selasa (24/02/2026) sore. Mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin Ramadan, melainkan ruang refleksi kebangsaan di tengah tantangan sosial yang kian kompleks.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri almarhum Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid, Direktur Utama PT Sango Ceramics Indonesia Sapto Utomo Hidajat, Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., Wakil Wali Kota Semarang Ir. H. Iswar Aminuddin, M.T., jajaran Forkopimda Kota Semarang, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang Dr. Sutrisno, S.K.M., M.H.Kes, Komandan Kodim 0733/Kota Semarang Kol. Inf. Priyo Handoyo, S.Sos., M.Si., unsur TNI-Polri, tokoh lintas agama, hingga personel Bankom Polrestabes Semarang.
Baca juga : Pemkot Semarang Perkuat Harmoni Sosial, Sahur Lintas Iman Bersama Sinta Nuriyah di Pura Agung Girinatha
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan saritilawah, sambutan Ketua Panitia Muh. Yusuf Bahtiar, serta sambutan Wali Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa harmoni merupakan identitas utama Kota Semarang, terlebih di tengah situasi bangsa yang menghadapi dinamika demokrasi dan tantangan kebencanaan.
“Harmoni itu wajah Kota Semarang, sebuah kota yang harus mampu merangkul perbedaan agar setiap warga merasa aman dan dihormati. Sosok Ibu Nyai selalu mengingatkan kami bahwa kebhinekaan bukan hanya soal hidup berdampingan, tetapi soal gotong royong tanpa batas sekat,” ujarnya.
Baca juga : Aksi Bersih Sampah Se-Jateng, Kota Semarang Angkut 1,1 Ton Sampah dari Kali Tawang Mas
Ia juga menyinggung kesiapan Kota Semarang menjadi tuan rumah MTQ tahun 2026 sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
“Kami ingin dunia melihat bahwa Kota Semarang dibalur dalam lantunan ayat suci Al-Qur’an yang bergema di tengah masyarakat majemuk. Peserta dari seluruh Indonesia akan membawa pesan damai dari semua golongan,” tegasnya.
Wali Kota turut memohon doa restu agar Semarang terus tumbuh menjadi kota yang bersih hatinya, cerdas pikirannya, serta sehat dalam persaudaraan.
Baca juga : Patroli Subuh Polsek Semarang Barat Sikat Balap Liar, 33 Motor Diamankan di Madukoro dan Sudirman
Selaras dengan tema acara, suasana reflektif mengemuka saat Inayah Wahid, putri Gus Dur, menyampaikan pesan kebangsaan yang dibalut humor khasnya. Ia menyoroti kondisi demokrasi yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.

“Karena yang bisa menjaga demokrasi kita, ya kita sendiri, masyarakat sendiri. Kita jaga demokrasi kita,” tuturnya tegas.
Ia mengajak hadirin menengok kembali sejarah saat Gus Dur membuka ruang penghormatan bagi warga Tionghoa yang sebelumnya mengalami diskriminasi. Demokrasi, menurutnya, adalah keberanian untuk memanusiakan manusia.
Tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” pun menjadi pengingat bahwa ibadah Ramadan bukan hanya ritual spiritual, tetapi momentum memperkuat solidaritas sosial, terutama di tengah situasi bangsa yang diuji berbagai persoalan.
Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah Wahid mengingatkan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa Indonesia.

“Jangan ada lagi gontok-gontokan hanya karena berbeda agama, suku, atau bahasa. Kita ini satu bangsa, satu keluarga besar,” pesannya.
Ia menekankan bahwa puasa harus melatih kesabaran, empati, dan kepedulian sosial, terlebih ketika masyarakat menghadapi bencana maupun dinamika demokrasi.

Sebagai wujud kepedulian, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pemberian tali asih kepada anak yatim piatu dan dhuafa di sekitar wilayah perusahaan.
Baca juga : Kapolrestabes Semarang Tinjau Jembatan Merah Putih Presisi di Jabungan, Akses 500 KK Kini Kembali Lancar
Acara ditutup dengan doa bersama dan buka puasa yang diikuti seluruh tamu undangan. Sore itu, Semarang kembali diingatkan bahwa meski demokrasi terasa goyah dan tantangan sosial terus menghadang, persatuan dalam perbedaan tetap menjadi kompas menuju masa depan bangsa yang lebih kuat. (ADC)




