KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Nuansa sakral berpadu semarak budaya mewarnai kawasan Pecinan, Kota Semarang, dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 Klenteng Ling Hok Bio sekaligus HUT Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien, yang digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu (11–12 April 2026).
Dipusatkan di Klenteng Ling Hok Bio, Jalan Gang Pinggir No.110, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, rangkaian kegiatan menghadirkan perpaduan ritual keagamaan, seni budaya, hingga kirab akbar yang melibatkan puluhan klenteng dari berbagai daerah di Indonesia.
Sejak pagi hari, Sabtu (11/04/2026), rangkaian dimulai dengan prosesi penerimaan Kiem Sien, dilanjutkan ritual Liam Keng, upacara kebesaran, malam kesenian, hingga sembahyang bersama yang berlangsung khidmat. Puncak acara digelar pada Minggu siang melalui kirab budaya mengelilingi kawasan Pecinan dengan rute kurang lebih 6 kilometer.

Puluhan replika klenteng, tandu Kim Sin, serta gunungan hasil bumi diarak melewati jalan-jalan ikonik seperti Gang Pinggir, Gang Lombok, Jalan MT Haryono hingga kembali ke titik awal. Iringan barongsai, liong, musik tradisional, serta petasan semakin menghidupkan suasana.
Baca juga : Kirab Budaya HUT ke-160 Klenteng Ling Hok Bio Semarang Digelar Meriah 11–12 April 2026
Ketua Yayasan TITD Klenteng Ling Hok Bio, Liem Lun Tjin (Liemawan Haryanto), menegaskan bahwa perayaan ini merupakan wujud rasa syukur atas perjalanan panjang klenteng yang telah berdiri selama 160 tahun.
“Perayaan ini adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam dan leluhur. Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan utama yang mempersatukan bangsa,” ujarnya di lokasi.
Ia juga menyoroti kuatnya nilai akulturasi budaya dalam kirab tersebut.
“Arak-arakan ini melambangkan ucapan terima kasih atas kemakmuran alam semesta. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi warisan yang harus dijaga,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh perwakilan Kongco Hok Tek Tjing Sien, Agung Kurniawan, yang menyebut kirab sebagai “doa visual” yang merepresentasikan harmoni budaya.
“Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, tetapi menunjukkan bahwa kami adalah bagian dari tanah Jawa,” jelasnya.
Baca juga : Karnaval Dugderan 2026 Perkuat Harmoni Lintas Budaya, Libatkan Anak-anak dan Tegaskan Filosofi Warak Ngendog
Kirab budaya tahun ini diikuti sekitar 56 perwakilan klenteng, termasuk dari Semarang, Jakarta, Kudus, Surabaya, hingga Manado. Tradisi ini sendiri diketahui hanya digelar setiap tiga tahun sekali, menambah nilai eksklusivitas dan daya tariknya.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Warga dari berbagai latar belakang memadati sepanjang rute kirab. Tidak hanya umat Tionghoa, warga lintas agama turut hadir menyaksikan.
Baca juga : FKSB Kota Semarang Gelar Halal Bihalal dan Rakor, Bahas Persiapan Musyawarah 2026
Salah satu warga, Titus Haryanto (72), mengaku rutin menyaksikan tradisi ini setiap tahun.
“Untuk budaya bagus ya, bisa menarik masyarakat sekitar. Harapannya ke depan ya semoga dilestarikan, jangan sampai hilang,” tuturnya.
Baca juga : Polsek Kaliwungu Pastikan Festival Syawalan 2026 Berjalan Tertib dan Lancar
Sementara itu, Hartini (51), warga Muslim yang datang bersama anaknya, menilai kegiatan ini sebagai sarana edukasi budaya.
“Namanya budaya ya harus dilestarikan. Kita beda agama, tapi semua sama, saling menghargai,” ujarnya.
Pengunjung lain asal Solo, Ita (21), yang tengah berwisata ke Semarang, mengaku terkesan dengan kekompakan peserta kirab.
“Seru sih kirabnya, ini benar-benar menunjukkan budaya yang kuat dan solid. Semoga terus dilestarikan karena jadi daya tarik Pecinan,” katanya.
Tak hanya sebagai tontonan, kirab budaya ini juga mengandung nilai edukatif dan sosial. Tokoh masyarakat setempat, Budi, menilai kegiatan ini sebagai sarana memperkuat toleransi.
“Kirab budaya seperti ini bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Ini edukasi publik tentang pentingnya toleransi dan keberagaman,” ungkapnya.

Kehadiran Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mewakili Wali Kota Semarang, turut menegaskan dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi ini.
Baca juga : Pemkot Semarang Perkuat Harmoni Sosial, Sahur Lintas Iman Bersama Sinta Nuriyah di Pura Agung Girinatha
Momentum HUT ke-160 Klenteng Ling Hok Bio menjadi bukti nyata bahwa harmoni antarbudaya dan antarumat beragama di Kota Semarang tetap terjaga. Di tengah keberagaman, tradisi ini hadir sebagai simbol persatuan yang hidup dan terus diwariskan lintas generasi. (ADC)




