KOTA SEMARANG, BANKOM SEMARANG NEWS.ID – Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang semakin memperkuat perannya sebagai lembaga konservasi dan edukasi. Untuk mendukung hal itu, Terminal Tipe A Mangkang menandatangani kerja sama strategis dengan pihak Semarang Zoo.
Baca juga : Bangunan Rumah Makan 2.254 m² di Gajahmungkur Semarang Dihentikan, Tersandung Masalah PBG
Penandatanganan kerja sama dilakukan di Kantor Terminal Tipe A Mangkang, Senin (15/09/2025) siang. Kepala Terminal Tipe A Mangkang, Reno Adi Pribadi, menegaskan komitmen pihaknya untuk mendukung keberlanjutan wisata edukasi satwa dan lingkungan.
“Kerja sama ini bentuk dukungan dari kami terhadap edukasi tentang satwa dan lingkungan,” ujar Reno.
Baca juga : Pelatihan BECR – Rescue Squad Semarang: Bekali Komunikasi Radio Relawan dan Perkuat Komunikasi Darurat
Menurut Reno, pembangunan pemukiman manusia kerap mengurangi habitat satwa. Maka dari itu, keberadaan kebun binatang menjadi penting agar satwa tetap lestari dan tidak hanya tersisa nama maupun gambar.
“Ini yang perlu kita wariskan untuk generasi penerus kita,” tegasnya.
Selain manfaat bagi karyawan, Terminal Mangkang juga membagikan 5.000 voucher diskon kepada setiap penumpang yang transit. Voucher ini bisa dimanfaatkan untuk menikmati wahana dan edukasi satwa di Semarang Zoo dengan harga lebih terjangkau.
“Kerja sama ini berlaku selama 2 tahun,” jelas Reno.
Baca juga : Bamsoet Dorong Peningkatan Penggunaan Teknologi Digital dalam Praktik Notaris
Sementara itu, Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo, menyampaikan bahwa peran lembaga konservasi tidak hanya menjaga kehidupan satwa, tetapi juga mengembangkannya agar bisa dilepasliarkan atau ditukarkan dengan sesama lembaga konservasi.
“Lembaga konservasi juga bertanggung jawab untuk menjaga kemurnian jenis dan menghindari perkawinan sedarah,” terangnya.
Baca juga : Klarifikasi RSI Sultan Agung Semarang soal Dugaan Penganiayaan Dokter oleh Keluarga Pasien
Bimo juga menegaskan bahwa Semarang Zoo terus berbenah dengan mengedepankan prinsip 5 freedom, yaitu bebas dari haus dan lapar, bebas dari rasa sakit, bebas dari stres, bebas berkembangbiak, serta bebas mengekspresikan diri seperti di habitat alami.
“Nah, tantangan beratnya ini, setelah berkembangbiak harus ditukar agar tidak kawin sedarah, atau dilepasliarkan,” pungkasnya.
Baca juga : Tradisi Bancakan Berujung Keracunan, Puluhan Warga Bengetayu Wetan Dilarikan ke Rumah Sakit
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkuat wisata edukasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga satwa dan lingkungan hidup. (ADC/.hms)






