KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Semangat toleransi dan kebersamaan tampak nyata dalam Karnaval Seni Budaya Lintas Agama Kota Semarang 2026 yang digelar meriah pada Minggu (26/04/2026). Ribuan warga memadati sepanjang rute dari Balai Kota hingga Simpang Lima untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang sarat makna spiritual dan kebudayaan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serta elemen masyarakat Kota Semarang ini mengusung tema luhur “Memayu Hayuning Bhawono, Memayu Hayuning Sesami, Memayu Hayuning Diri, Wasudhaiva Khutumbakam”, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca juga : Karnaval Pawai Ogoh-ogoh Berlangsung Meriah, Dukung Program Ayo Wisata ke Semarang
Sebanyak sekitar 1.500 peserta dari berbagai elemen masyarakat turut ambil bagian. Tidak hanya umat Hindu, tetapi juga perwakilan dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan. Mereka menampilkan ragam kesenian seperti ogoh-ogoh, barongsai, rebana, topeng ireng, hingga ikon khas Semarang, Warak Ngendog.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi representasi nyata wajah Kota Semarang sebagai kota toleran.
“Pawai ogoh-ogoh ini menjadi bukti komitmen bersama dalam merawat harmoni. Nilai yang diusung, seperti refleksi untuk membersihkan diri dari sifat negatif dan menjaga keseimbangan hidup, relevan bagi semua,” ujar Agustina.
Baca juga : Karnaval Dugderan 2026 Perkuat Harmoni Lintas Budaya, Libatkan Anak-anak dan Tegaskan Filosofi Warak Ngendog
Ia menambahkan, tahun 2026 menjadi momentum istimewa karena berbagai perayaan keagamaan berlangsung berdekatan namun tetap berjalan kondusif, mulai dari Imlek, Dugderan, Idul Fitri, Paskah, hingga Nyepi.

Menurutnya, keberagaman yang ditampilkan dalam karnaval ini merupakan kekuatan sosial yang memperkokoh kehidupan masyarakat.
“Inilah wajah Kota Semarang yang menghadirkan kesetaraan dan keberagaman sebagai kekuatan sosial. Mari jadikan perbedaan sebagai energi kolaborasi dan menjadikan Semarang sebagai rumah bersama yang nyaman bagi semua,” tambahnya.
Baca juga : Pemkot Semarang Perkuat Harmoni Sosial, Sahur Lintas Iman Bersama Sinta Nuriyah di Pura Agung Girinatha
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya empat ogoh-ogoh utama dari Semarang, Kendal, dan Jepara, diiringi musik baleganjur serta pertunjukan seni lintas budaya lainnya. Arak-arakan berjalan dari Balai Kota melewati Tugu Muda hingga berakhir di Lapangan Simpang Lima.

Selain menjadi tontonan, pawai ini juga mengandung pesan reflektif tentang pentingnya membersihkan diri dari sifat negatif dan menjaga keseimbangan hidup. Dalam konteks lintas agama, nilai tersebut berkembang menjadi komitmen bersama dalam merawat harmoni sosial, budaya, dan pembangunan.
Momentum ini juga mempertegas capaian Kota Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 dari Setara Institute, Semarang menempati peringkat ketiga nasional.
Tak hanya itu, filosofi Warak Ngendog kembali diangkat sebagai simbol akulturasi budaya yang telah mengakar kuat di Kota Atlas. Perpaduan unsur naga, kambing, dan unta dalam ikon tersebut merepresentasikan harmoni lintas budaya yang hidup berdampingan.
Baca juga : Tradisi 3 Tahunan, Kirab Budaya Ling Hok Bio Hidupkan Spirit Kebhinekaan di Semarang
Karnaval ini juga berdampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Pemerintah Kota Semarang pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan sekaligus menyambut agenda besar berikutnya, yakni Semarang Night Carnival dalam rangka HUT ke-479 Kota Semarang pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2026.

Dengan pengamanan dari aparat gabungan serta para relawan termasuk Bankom Semarang yang dipercaya telah menjadi Pecalang di Semarang, rekayasa lalu lintas yang tertata, kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh antusiasme masyarakat.
Baca juga : Semarak Karnaval Paskah 2026 di Kota Semarang, Ribuan Umat Tampilkan Harmoni dan Pesan Damai
Karnaval Seni Budaya Lintas Agama ini bukan sekadar perayaan, melainkan cerminan nyata bahwa keberagaman di Kota Semarang adalah kekuatan yang menyatukan. (ADC)



