Sarasehan Ormas Kota Semarang, Akademisi USM: Ormas Harus Mandiri Tanpa Kehilangan Misi Sosialnya

Akademisi Universitas Semarang, RR. B. Natalia Sari Pujiastuti, S.Psi., M.Si. saat memberikan paparannya, Kamis (04/06/2026). (Foto:ADC)

KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil kembali ditegaskan dalam kegiatan Sarasehan Organisasi Kemasyarakatan Kota Semarang yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang di Hotel Pandanaran Semarang, Kamis (04/06/2026).

Mengusung tema “Sinergi Organisasi Kemasyarakatan dan Pemerintah Kota Semarang dalam Pembangunan Daerah”, kegiatan tersebut mempertemukan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan puluhan organisasi kemasyarakatan (ormas) untuk membangun kesamaan visi dalam mendukung pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Acara dibuka oleh Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Drs. Bambang Pramusinto, S.IP., S.H., M.Si., mewakili Wali Kota Semarang. Hadir pula narasumber dari Bappeda Kota Semarang, Cuk Yulianto, S.E., serta akademisi Universitas Semarang sekaligus peneliti organisasi masyarakat, RR. B. Natalia Sari Pujiastuti, S.Psi., M.Si.

Baca juga : Kesbangpol Semarang Gelar Sarasehan Ormas, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Dalam paparannya, Natalia Sari Pujiastuti menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, ormas memiliki posisi strategis sebagai mitra yang mampu menjangkau berbagai persoalan masyarakat yang belum seluruhnya tersentuh oleh program pemerintah.

 

“Pemerintah daerah bersama ormas harus bersinergi dalam pembangunan. Organisasi masyarakat sipil hadir untuk mengisi celah-celah yang tidak terjamah oleh pemerintah, sehingga berbagai persoalan di masyarakat dapat ditangani secara bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan organisasi kemasyarakatan bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan agen perubahan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.

 

Menurut Natalia, pemerintah memang membuka peluang bagi ormas untuk memperoleh dukungan program maupun hibah. Namun dukungan tersebut bukan semata karena adanya proposal yang diajukan, melainkan karena kontribusi nyata yang telah diberikan kepada masyarakat.

 

“Ormas perlu menunjukkan dampak program yang dijalankan. Pemerintah akan lebih mudah memberikan dukungan kepada organisasi yang terbukti aktif membantu masyarakat dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial,” jelasnya.

 

Salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam sarasehan adalah pentingnya transformasi organisasi kemasyarakatan menuju kemandirian.

Baca juga : OPD dan Relawan CC112 Semarang Ikuti Training Komunikasi Pelayanan Publik di Yogyakarta

Natalia menjelaskan bahwa ormas perlu mulai mengembangkan usaha sosial berbasis potensi komunitas agar memiliki sumber pendanaan yang berkelanjutan tanpa kehilangan ruh pengabdian kepada masyarakat.

 

“Kemandirian tidak berarti ormas berjalan sendiri. Kemandirian adalah kemampuan menjaga keberlangsungan misi sosial melalui inovasi dan pengelolaan sumber daya yang sehat,” katanya.

Ia menggambarkan proses tersebut melalui tahapan bantuan insidental, pemetaan potensi komunitas, pengembangan usaha sosial, hingga terciptanya misi sosial yang berkelanjutan.

 

Berbagai sektor dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan, mulai dari bidang keagamaan, perempuan, disabilitas, pemuda, sosial, budaya hingga kelompok tani dan buruh.

 

“Ormas boleh berdaya secara ekonomi sepanjang tidak kehilangan ruh sosialnya,” tegas Natalia.

Baca juga : Pembinaan Ormas Semarang di Tawangmangu: Dorong Kemandirian Lewat Fundraising dan Ekonomi Kreatif

Dalam forum tersebut juga ditegaskan pentingnya membangun pola hubungan yang sehat antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.

Beberapa prinsip yang ditekankan meliputi kolaborasi yang tidak bersifat transaksional, tidak berorientasi semata pada bantuan, tetap menjaga independensi organisasi, transparan dalam pengelolaan sumber daya, serta berorientasi pada manfaat masyarakat.

 

“Sinergi yang sehat bukan hubungan patronase, tetapi kemitraan yang saling menghormati. Pemerintah tidak mendominasi, ormas tidak hanya meminta, dan masyarakat menjadi pusat manfaat,” paparnya.

 

Selain itu, seluruh program kolaborasi diharapkan selaras dengan nilai-nilai Pancasila, kebutuhan riil masyarakat, serta didukung evaluasi dampak yang terukur.

Baca juga : Fundraising Bukan Sekadar Proposal, Ormas Diajak Bangun Sistem dan Kepercayaan

Untuk memperkuat kemitraan tersebut, sejumlah bentuk kolaborasi konkret juga diperkenalkan, antara lain forum komunikasi rutin antara ormas dan Kesbangpol, klinik kelembagaan untuk penguatan administrasi organisasi, pelatihan kewirausahaan sosial, inkubasi unit usaha komunitas, hingga kemitraan lintas dinas dalam berbagai sektor pembangunan.

 

Skema pengembangannya meliputi pemetaan kebutuhan, peningkatan kapasitas organisasi, pelaksanaan proyek percontohan, serta pendampingan berkelanjutan.

 

“Kolaborasi yang baik tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam program yang terukur, didampingi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Natalia.

 

Natalia menyampaikan bahwa sarasehan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas organisasi masyarakat sipil di Kota Semarang.

 

“Harapannya ini menjadi langkah awal agar ormas semakin memiliki semangat inovasi dan kreativitas dalam mengembangkan diversifikasi usaha. Jangan hanya bergantung pada satu sumber pendanaan seperti hibah atau donasi,” ujarnya.

Ia menyebut ormas sebagai “lentera masyarakat” yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan program sosial di tengah masyarakat.

 

“Pemerintah membutuhkan ormas sebagai energi yang mampu menjangkau aspirasi rakyat. Sebaliknya, ormas juga membutuhkan dukungan pemerintah. Sinergi yang saling menguatkan inilah yang menjadi kekuatan pembangunan daerah,” tambahnya.

 

Menurut Natalia, kondisi organisasi kemasyarakatan di Kota Semarang saat ini patut diapresiasi karena mampu menjaga kondusivitas dan semangat kolaborasi lintas organisasi.

 

“Semarang patut bersyukur karena ormas-ormasnya dapat berjalan dengan baik, saling mendukung, dan menjaga harmoni. Inilah sumber kekuatan masyarakat yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Baca juga : HUT ke-22 Bankom Polrestabes Semarang: “Mengabdi Dengan Hati, Bergerak Dengan Aksi” dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama

Melalui sarasehan tersebut, Kesbangpol Kota Semarang berharap tercipta ekosistem organisasi kemasyarakatan yang semakin mandiri, akuntabel, inovatif, dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan pembangunan Kota Semarang yang inklusif, tangguh, serta berkelanjutan. (ADC)

 

 

Simak berita terkini dan baca berita kami langsung di ponselmu.
Akses berita Bankom Semarang News
WhatsApp Channel https://whatsapp.com/channel/0029VatTkCa4SpkQUzGt5
Scroll to Top