KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Upaya memperkuat peran dan kemandirian organisasi kemasyarakatan (ormas) terus digencarkan Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan pembinaan bertajuk Fundraising Organisasi Kemasyarakatan yang digelar selama dua hari, Rabu–Kamis (15–16 April 2026) di kawasan sejuk Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Bintang tersebut diikuti oleh 68 peserta dari 34 organisasi masyarakat lintas sektor di Kota Semarang. Peserta diberangkatkan dari halaman Gedung Pandanaran menggunakan dua armada bus, menandai dimulainya perjalanan pembelajaran kolektif menuju penguatan kapasitas organisasi.
Dalam sambutannya secara daring, Kepala Badan Kesbangpol Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, menegaskan pentingnya momentum ini sebagai langkah strategis dalam membangun ormas yang tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga produktif dan berdampak nyata.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas sekaligus peran strategis ormas dalam pembangunan daerah. Ormas harus mampu mandiri, tidak hanya bergantung pada hibah pemerintah,” tegasnya.

Ia menambahkan, meski pemerintah tetap membuka ruang dukungan, organisasi masyarakat dituntut untuk mampu mengembangkan sumber daya secara berkelanjutan, termasuk melalui penguatan fundraising dan kewirausahaan sosial.
Baca juga : Hanya 41,22% DPRD Lapor LHKPN, KPK Wanti-wanti Krisis Kepercayaan Publik
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, mulai dari unsur pemerintah, legislatif, akademisi hingga praktisi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi kunci disampaikan oleh akademisi Universitas Semarang, Natalis Sari Pujiastuti, yang mengungkap fakta masih tingginya ketergantungan ormas terhadap dana hibah.
“Sebanyak 52,3 persen ormas masih bergantung pada hibah pemerintah. Ini menunjukkan lemahnya daya tahan organisasi dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti rendahnya adopsi teknologi, lemahnya tata kelola keuangan, serta minimnya kemitraan strategis sebagai tantangan serius yang harus segera diatasi.
“Hanya sekitar 33 persen ormas yang memiliki laporan keuangan yang diaudit. Ini bukan sekadar administratif, tapi menyangkut kepercayaan publik,” tambahnya.
Baca juga : Sertijab Kapolrestabes Semarang Berlangsung Khidmat, Kombes Heri Wahyudi Resmi Menjabat
Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama dan Ormas Kesbangpol Kota Semarang, Agung Nurul Falaq Adi Wibowo, menekankan pentingnya adaptasi di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
“Kemandirian ormas sangat penting. Dengan kondisi anggaran yang terbatas, ormas harus mampu mencari peluang melalui bisnis digital dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Selama kegiatan, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam forum diskusi kelompok melalui pendekatan Ormas Independence Canvas (OIC). Metode ini membantu peserta merancang strategi konkret dalam mengembangkan potensi fundraising dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Baca juga : Tradisi 3 Tahunan, Kirab Budaya Ling Hok Bio Hidupkan Spirit Kebhinekaan di Semarang
Selain itu, kegiatan juga diisi dengan dialog interaktif, berbagi pengalaman antar organisasi, hingga penguatan wawasan kebangsaan. Suasana kebersamaan semakin terasa saat peserta mengikuti olahraga bersama dan outbond di pagi hari kedua kegiatan.

Partisipasi aktif dari berbagai elemen, termasuk Bankom Kota Semarang, menunjukkan komitmen kolektif dalam membangun ekosistem ormas yang lebih kuat, adaptif, dan mandiri.
Baca juga : Kapolrestabes Semarang Kunjungi Ponpes Roudlotus Saidiyyah Kalialang, Bangun Kedekatan dengan Ulama
Melalui kegiatan ini, Kesbangpol Kota Semarang berharap terbangun sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah dan ormas dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berbasis partisipasi masyarakat. (ADC)




