TAWANGMANGU, Bankomsemarangnews.id – Upaya mendorong kemandirian organisasi kemasyarakatan (ormas) terus diperkuat melalui kegiatan Fundraising Organisasi Kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Rabu (15/04/2026), di Hotel Grand Bintang, Tawangmangu. Kegiatan ini diikuti oleh 34 ormas dari Kota Semarang dengan fokus pada peningkatan kapasitas dan keberlanjutan organisasi.
Mengusung tema “Dari Ketergantungan Donasi Menuju Kemandirian Finansial dan Dampak Berkelanjutan”, forum ini menghadirkan akademisi sekaligus peneliti organisasi masyarakat, RR. B. Natalia Sari Pujiastuti, S.Psi., M.Si, sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Natalia mengungkapkan bahwa sebagian besar ormas di Kota Semarang masih menghadapi tantangan serius dalam aspek kemandirian finansial dan tata kelola organisasi.
“Data Indeks Kinerja Ormas Kota Semarang 2024 menunjukkan lebih dari 52% ormas masih bergantung pada hibah dan belum memiliki sumber pendanaan mandiri. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk bertransformasi,” ujarnya.
Baca juga : Pembinaan Ormas Semarang di Tawangmangu: Dorong Kemandirian Lewat Fundraising dan Ekonomi Kreatif
Ia juga menyoroti rendahnya adopsi digital dan transparansi keuangan di kalangan ormas. Hanya sekitar 30% organisasi yang aktif memanfaatkan platform digital, sementara laporan keuangan yang diaudit secara rutin baru dilakukan oleh sekitar 33% ormas.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya jejaring kemitraan dan rendahnya kepercayaan publik.
“Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci. Tanpa itu, kepercayaan publik sulit dibangun, padahal itu fondasi utama keberlanjutan organisasi,” tegasnya.
Baca juga : Dorong Kemandirian Ormas, Kesbangpol Kota Semarang Gelar Fundraising Berbasis Ekonomi Kreatif di Tawangmangu
Dalam forum tersebut, konsep wirausaha sosial menjadi salah satu solusi strategis yang ditawarkan. Ormas didorong untuk mengembangkan unit usaha mandiri tanpa meninggalkan misi sosialnya.
Natalia menjelaskan bahwa keseimbangan antara profit dan dampak sosial menjadi kunci utama.
“Wirausaha sosial bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi bagaimana keuntungan tersebut digunakan untuk memperluas dampak sosial. Di situlah letak kekuatan ormas modern,” jelasnya.

Selain itu, ormas juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan anggota, serta memperkuat ekonomi komunitas lokal.
Baca juga : FKSB Kota Semarang Gelar Halal Bihalal dan Rakor, Bahas Persiapan Musyawarah 2026
Meski memiliki potensi besar, upaya menuju kemandirian ekonomi ormas tidak lepas dari berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, akses permodalan, hingga kendala regulasi.
Banyak ormas dinilai masih memiliki struktur komunikasi yang bersifat top-down dan belum mengakomodasi partisipasi aktif anggota. Di sisi lain, ketakutan terhadap perubahan dan kekhawatiran akan bergesernya nilai sosial juga menjadi hambatan tersendiri.
“Perubahan seringkali dianggap ancaman, padahal justru menjadi jalan untuk bertahan dan berkembang,” tambah Natalia.
Baca juga : Jelang May Day 2026, Polda Jateng Perkuat Perlindungan Buruh Lewat Desk Ketenagakerjaan
Dalam sesi penutup, peserta dibekali panduan komprehensif untuk membangun reputasi organisasi yang kuat. Mulai dari optimalisasi komunikasi publik, publikasi laporan keuangan, hingga penguatan kemitraan strategis lintas sektor.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi titik awal transformasi ormas di Kota Semarang menuju organisasi yang lebih mandiri, profesional, dan berdaya saing.
Baca juga : Sertijab Kapolrestabes Semarang Berlangsung Khidmat, Kombes Heri Wahyudi Resmi Menjabat
Kesbangpol Kota Semarang menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi ormas dalam meningkatkan kapasitas serta memperluas akses terhadap sumber pendanaan yang berkelanjutan. (ADC)




