TAWANGMANGU, Bankomsemarangnews.id – Suasana sejuk pegunungan Tawangmangu menjadi latar refleksi sekaligus pembelajaran bagi puluhan perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Kota Semarang. Pada Rabu, 15 April 2026, sebanyak 34 ormas berkumpul dalam kegiatan Fundraising Organisasi Kemasyarakatan yang diinisiasi oleh Badan Kesbangpol Kota Semarang di Hotel Grand Bintang.
Baca juga : Dari Donasi ke Kemandirian: Ormas Semarang Didorong Jadi Aktor Pembangunan Profesional
Di tengah dinamika organisasi yang kian kompleks, pelatihan ini hadir bukan sekadar sebagai agenda rutin, melainkan sebagai ruang transformasi cara pandang. Ormas tidak lagi didorong bergantung pada bantuan hibah, tetapi diarahkan untuk membangun sistem yang kuat dan berkelanjutan.
Pemateri kegiatan, Aditya, seorang praktisi Community Empowerment Specialist, mengajak peserta untuk melihat fundraising dari perspektif yang lebih mendalam—sebagai proses membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan.
“Yang kita bangun bukan sekadar pendanaan, tapi relasi jangka panjang. Ketika trust sudah terbentuk, dukungan akan datang dengan sendirinya,” ungkapnya.
Ia menyoroti bahwa banyak organisasi masih terjebak dalam pola lama: mengajukan proposal, mendapatkan hibah, melaksanakan kegiatan, lalu berhenti tanpa kesinambungan. Pola tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab lemahnya daya tahan organisasi.
Baca juga : Dorong Kemandirian Ormas, Kesbangpol Kota Semarang Gelar Fundraising Berbasis Ekonomi Kreatif di Tawangmangu
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, berbagai persoalan internal organisasi turut mencuat. Mulai dari konflik kepengurusan, ketidakjelasan pembagian peran, hingga program yang hanya bersifat seremonial tanpa dampak nyata.

Kondisi ini, menurut Aditya, berdampak langsung pada menurunnya kepercayaan publik. Minimnya transparansi laporan, lemahnya komunikasi publik, serta tidak terukurnya hasil program menjadi catatan penting yang harus segera dibenahi.
“Kalau organisasi ingin dipercaya, maka setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan. Transparansi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan,” tegasnya.
Baca juga : Pembinaan Ormas Semarang di Tawangmangu: Dorong Kemandirian Lewat Fundraising dan Ekonomi Kreatif
Lebih jauh, peserta diajak memahami konsep fundraising berbasis dampak. Sebuah pendekatan yang menitikberatkan pada alur berpikir: masalah, solusi, dampak, dan pendanaan. Dalam pendekatan ini, donatur tidak lagi sekadar melihat kegiatan, tetapi menilai perubahan yang dihasilkan.
Pelatihan ini juga membuka wawasan peserta terkait peluang usaha sosial yang dapat dikembangkan sesuai karakter organisasi. Mulai dari koperasi komunitas, usaha kuliner, pelatihan keterampilan, hingga layanan berbasis inklusi bagi kelompok rentan.
Baca juga : Jelang May Day 2026, Polda Jateng Perkuat Perlindungan Buruh Lewat Desk Ketenagakerjaan
Tak hanya menerima materi, peserta juga ditantang untuk menyusun analisis internal organisasi masing-masing. Mereka diminta mengidentifikasi potensi, hambatan, serta merumuskan strategi pengembangan ke depan dalam bentuk makalah sederhana.

Menjelang akhir kegiatan, sesi diskusi interaktif menjadi momentum penting untuk saling bertukar pengalaman dan memperkuat jejaring antarormas. Ide-ide kolaboratif pun mulai bermunculan, mencerminkan semangat baru menuju organisasi yang lebih adaptif.
Melalui kegiatan ini, Kesbangpol Kota Semarang menegaskan komitmennya dalam mendorong ormas agar tidak hanya aktif secara kegiatan, tetapi juga memiliki daya tahan, tata kelola yang baik, serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Baca juga : Tradisi 3 Tahunan, Kirab Budaya Ling Hok Bio Hidupkan Spirit Kebhinekaan di Semarang
Pesan yang mengemuka dari forum ini sederhana namun kuat: kemandirian organisasi tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui sistem yang konsisten, transparan, dan berorientasi pada perubahan.
“Ormas yang kuat bukan yang sering menerima bantuan, tetapi yang mampu berdiri dengan sistemnya sendiri,” menjadi refleksi yang mengakhiri kegiatan hari itu. (ADC)




