KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Upaya memperkuat sistem penanganan kegawatdaruratan pra-rumah sakit terus dilakukan Pemerintah Kota Semarang. Sebanyak 75 perwakilan organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan relawan kesehatan mengikuti Penguatan Komitmen dan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Aula Dinas Kesehatan Kota Semarang Lt.10, Selasa (22/07/2026).
“Relawan bukan hanya hadir di lokasi kejadian, tetapi menjadi harapan pertama bagi korban. Dalam golden hour, keputusan dan tindakan yang tepat dapat menjadi pembeda antara kehidupan dan kehilangan. Melalui Pelatihan PPGD 2026, Bankom Semarang meneguhkan komitmennya sebagai garda terdepan kemanusiaan untuk mewujudkan Kota Semarang yang lebih aman, tanggap, dan berdaya.”
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai ini merupakan kolaborasi antara Dinas Kesehatan Kota Semarang, PT Jasa Raharja Kantor Wilayah Jawa Tengah, serta didukung Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, RSUP dr. Kariadi, dan Public Safety Center (PSC) Semarang.
Baca juga : 25 Ormas Tampil di Kick Off Kinerja Ormas 2026, Bankom Semarang Suguhkan Aksi Kemanusiaan Nyata
Dari unsur Bankom Kota Semarang, hadir lima personel yang mengikuti seluruh rangkaian materi teori maupun praktik sebagai bagian dari peningkatan kapasitas relawan dalam mendukung Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Pelatihan ini menjadi langkah nyata membangun safe community, khususnya dalam meningkatkan kemampuan masyarakat memberikan pertolongan pertama sebelum korban memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan.
Baca juga : Haul Ki Ageng Pandanaran 2026: Tradisi, Religi, dan Gotong Royong Warnai Kota Semarang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, menegaskan bahwa keberadaan relawan merupakan bagian penting dalam menyelamatkan korban pada masa-masa kritis setelah kecelakaan.
“Golden hour atau 0 hingga 10 menit pertama setelah kejadian merupakan waktu yang sangat menentukan keselamatan korban. Ambulans memang penting, tetapi sebelum ambulans datang dibutuhkan relawan yang mampu melakukan asesmen awal, menghentikan perdarahan, menjaga jalan napas, hingga melakukan pertolongan pertama dengan benar. Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini para relawan menjadi garda terdepan yang percaya diri, memahami prosedur, dan mampu bertindak cepat demi menyelamatkan nyawa masyarakat,” ujar Abdul Hakam.
Ia juga mengingatkan setiap relawan agar selalu membawa perlengkapan dasar pertolongan pertama, seperti pembersih luka, kasa atau perban steril, serta alat stabilisasi (splint) sebagai bekal ketika menghadapi situasi darurat di lapangan.

Sementara itu, perwakilan PT Jasa Raharja Kanwil Jawa Tengah menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menekan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas melalui peningkatan kemampuan masyarakat sebagai penolong pertama.
“Target kami adalah zero fatality. Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat dapat memberikan pertolongan pertama sesuai SOP sehingga korban memiliki peluang hidup yang lebih besar sebelum mendapatkan penanganan medis. Peran relawan menjadi sangat mulia karena mereka hadir lebih dahulu di lokasi kejadian,” ungkapnya.
Baca juga : Kirab Poo Seng Tay Tee ke-166 Semarakkan Semarang, Ribuan Warga Rayakan Harmoni Budaya dan Toleransi
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memaparkan tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang masih menjadi tantangan serius.
Berdasarkan data tahun 2025, di Jawa Tengah tercatat 34.117 kejadian kecelakaan, dengan 4.413 korban meninggal dunia dan puluhan ribu korban luka. Kota Semarang sendiri menjadi salah satu wilayah dengan angka kecelakaan tertinggi di Jawa Tengah sehingga membutuhkan keterlibatan aktif relawan sebagai first responder.
Materi pelatihan meliputi pengenalan landmark dan black spot kecelakaan, penguatan komitmen relawan SPGDT, hingga praktik penanganan korban kecelakaan lalu lintas yang dipandu langsung oleh tim ahli dari RSUP dr. Kariadi bersama PSC Semarang.

Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik menghentikan perdarahan, pembebasan jalan napas, bantuan hidup dasar, penanganan patah tulang, evakuasi korban secara aman, hingga simulasi penanganan kegawatdaruratan di lapangan.
Baca juga : Tanggul Sungai Plumbon Jebol, Mbah Maryam Ditemukan Meninggal Usai Hanyut di Mangkang Kulon
Keikutsertaan Bankom Semarang dalam pelatihan ini mempertegas komitmen organisasi sebagai mitra strategis pemerintah, kepolisian, serta instansi kesehatan dalam mendukung pelayanan kemanusiaan.
Sebagai organisasi relawan komunikasi yang selama ini aktif membantu pengamanan kegiatan masyarakat, pengaturan lalu lintas, pencarian korban, hingga respons kebencanaan, peningkatan kompetensi pertolongan pertama menjadi bekal penting bagi anggota Bankom ketika menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi kejadian.
Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, Jasa Raharja, dan relawan masyarakat, diharapkan sistem penanganan kegawatdaruratan di Kota Semarang semakin cepat, tepat, dan mampu menekan angka kematian maupun kecacatan akibat kecelakaan lalu lintas. (ADC)




