KAB. SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Polres Semarang berhasil mengungkap kasus tindak pidana persetubuhan terhadap anak yang diduga dilakukan oleh seorang pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Grobogan. Pengungkapan kasus tersebut berdasar pengakuan anak Korban kepada orang tuanya.
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana dalam keterangannya saat Konfrensi Pers menegaskan bahwa pengungkapan kasus ini merupakan wujud komitmen Polres Semarang dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak serta menindak tegas setiap pelaku kekerasan seksual.
“Kasus kekerasan seksual terhadap anak menjadi perhatian serius kami. Polres Semarang berkomitmen memberikan perlindungan kepada korban anak dan memastikan proses hukum terhadap pelaku berjalan secara profesional, transparan, dan tuntas.” ungkapnya.
Baca juga : Polda Jateng Ungkap Dua Kasus Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan, Hotline Pengaduan Dibuka 24 Jam
Berdasarkan hasil penyidikan, korban merupakan seorang anak perempuan berusia 13 tahun warga Kabupaten Semarang, yang sebelumnya menjadi santri di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Grobogan yang dikelola oleh tersangka berinisial MZ (56 Th).
Polres Semarang mengungkap bahwa dugaan tindak pidana tersebut bermula pada tahun 2023, tersangka diduga pertama kali melakukan persetubuhan terhadap korban anak di dalam kamar pelaku di lingkungan pondok pesantren.
Baca juga : Bupati Semarang Menyerahkan Insentif Kepada 544 Tenaga Pengajar Keagamaan Non Formal.
Perbuatan tersebut diduga dilakukan secara berulang hingga tahun 2025, tersangka diduga memanfaatkan kedudukan dan kepercayaan yang dimilikinya sebagai pengasuh pondok pesantren untuk mempengaruhi dan memperdaya korban, dan meyakinkan korban anak bahwa keduanya telah menikah setelah melakukan persetubuhan.
“Perlindungan terhadap anak adalah tanggung jawab bersama. Setiap bentuk kekerasan seksual harus dihentikan, korban wajib mendapat perlindungan, dan proses hukum harus ditegakkan secara profesional tanpa pandang bulu.” 🤝⚖️
Peristiwa terakhir diduga terjadi pada Rabu, 19 November 2025, di sebuah hotel di kawasan Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Kasus tersebut baru diketahui pihak keluarga pada Desember 2025 dan kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian.
“Pelaku melakukan aksi terakhirnya di akhir 2025, dengan dalih ingin mengantarkan korban anak pulang ke rumah. Saat ini sudah kami amankan, dan masih kita dalami guna penyidikan lebih lanjut.” Pungkas Kasat Reskrim.
Baca juga : 59 Personel Polres Semarang Naik Pangkat, Kapolres : Jadikan Motivasi Pengabdian
AKP Bodia memaparkan bahwa kepada pelaku akan dikenakan Pasal 6 huruf c Jo Pasal 15 ayat (1) huruf g Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual Jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana atau; Pasal 473 ayat (2) huruf b Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.(Arie B)




