KOTA SEMARANG, Bankomsemarangnews.id – Dentuman tambur, alunan musik tradisional Tionghoa, kepulan dupa, hingga arak-arakan kimsin atau arca Sam Poo Tay Djien kembali menghidupkan suasana kawasan Pecinan Kota Semarang.
Kirab Cheng Ho ke-621 tahun digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan kedatangan YS. Sam Poo Tay Djien di Kota Semarang pada Jumat-Sabtu, 14-15 Agustus 2026. Prosesi utama menghubungkan dua tempat yang memiliki arti penting dalam tradisi penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho, yakni Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok dan Klenteng Agung Sam Poo Kong di Gedung Batu, Semarang.
Baca juga : Kirab Poo Seng Tay Tee ke-166 Semarakkan Semarang, Ribuan Warga Rayakan Harmoni Budaya dan Toleransi
Rangkaian kirab tersebut tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga warisan sejarah, mempererat persaudaraan lintas daerah, sekaligus mengenalkan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda.
Prosesi kirab diawali dengan pemberangkatan kio atau tandu yang membawa kimsin Sam Poo Tay Djien dari Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong. Rombongan melintasi sejumlah kawasan bersejarah di Pecinan Semarang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gedung Batu.
Setelah menjalani rangkaian ritual di Sam Poo Kong, rombongan kemudian kembali menuju kawasan Pecinan dan tiba di Klenteng Tay Kak Sie pada Sabtu sore.
Perjalanan kirab yang melewati kawasan Gang Lombok, Gang Pinggir, Wotgandul, Plampitan, Kranggan hingga sejumlah ruas jalan kota tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang sejarah tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semarang. Prosesi kepulangan rombongan ke Tay Kak Sie pada Sabtu sore juga disambut antusias warga dan umat yang telah menunggu di kawasan klenteng.
Baca juga : Pawai Ogoh-Ogoh Semarang 2026, Simbol Harmoni Lintas Agama dan Budaya
Ketua Panitia Kirab Sam Poo Tay Djien ke-621, Djoko Weyong, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna penting dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Maknanya kita menjaga budaya kita. Sebagai generasi muda kita akan menjaga pelestarian budaya kita. Kirab ini juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bagi Kota Semarang agar senantiasa diberikan keamanan, kesehatan dan kelancaran. Spesialnya kita selalu mohon berkah, supaya diberi kelancaran, Kota Semarang semuanya aman, sehat dan sukses. Tidak ada halangan apa pun,” ujar Djoko Weyong.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa di balik kemeriahan kirab terdapat semangat menjaga kesinambungan budaya. Tradisi tidak hanya dipertahankan melalui ritual, tetapi juga melalui keterlibatan generasi muda yang memahami nilai sejarah dan makna kebersamaan di dalamnya.
Semarak Kirab Cheng Ho ke-621 juga terasa melalui keterlibatan komunitas dari luar Kota Semarang. Salah satunya rombongan dari Klenteng Cetiya Metta Padma, Bekasi, Jawa Barat, yang membawa kimsin Sam Poo Tay Djien dalam prosesi kirab.
Baca juga : Tradisi 3 Tahunan, Kirab Budaya Ling Hok Bio Hidupkan Spirit Kebhinekaan di Semarang
Hanna, salah seorang peserta, mengatakan rombongannya datang menggunakan satu bus dengan sekitar 50 orang.
“Kita ingin meramaikan acara kedatangan Yang Suci Sam Poo Tay Djien ke-621 tahun. Seru tapi ada capek juga karena jauh banget. Tapi seru karena kita belum pernah untuk kirab sejauh ini,” ungkap Hanna.
Bagi rombongan tersebut, perjalanan menuju Semarang menjadi pengalaman tersendiri. Meski harus menempuh jarak jauh, antusiasme mengikuti kirab membuat rasa lelah terbayarkan. Kehadiran peserta dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa tradisi Sam Poo Tay Djien telah menjadi ruang perjumpaan komunitas yang tidak terbatas pada wilayah Kota Semarang.
Festival Arak-arakan Cheng Ho 2026 juga menjadi bagian dari agenda budaya dan pariwisata Kota Semarang, sekaligus masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai Jumat, 14 Agustus 2026. Malam pembukaan di kawasan Klenteng Sam Poo Kong diisi dengan Festival Rakyat, pertunjukan musik, parade barongsai, bazar kuliner hingga pesta kembang api. Sementara puncak kegiatan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, ditandai dengan pelaksanaan kirab budaya dari Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong dan kembali ke kawasan Pecinan.
Baca juga : Kirab Budaya HUT ke-160 Klenteng Ling Hok Bio Semarang Digelar Meriah 11–12 April 2026
Bagi pengurus Klenteng Tay Kak Sie, peringatan 621 tahun kedatangan Sam Poo Tay Djien merupakan bentuk penghormatan kepada sejarah sekaligus upaya mempertahankan tradisi yang telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Semarang.
Perwakilan pengurus klenteng menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan.
“Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan. Kami berharap tradisi ini dapat terus dilaksanakan dan diwariskan kepada generasi muda, sehingga nilai-nilai budaya dan sejarah yang ada tetap terjaga,” tuturnya.
Peringatan 621 Tahun Kedatangan YS. Sam Poo Tay Djien menjadi momentum reflektif bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan masa lalu. Justru dengan mengenali sejarah, masyarakat memiliki pijakan untuk memahami keberagaman dan membangun masa depan secara lebih inklusif.
Baca juga : Ormas Keagamaan Kota Semarang Bersatu, Dorong Sinergi Lintas Agama Atasi Banjir, Rob dan Persoalan Sampah
Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., menyampaikan bahwa sedikitnya terdapat 20 klenteng yang ambil bagian dalam arak-arakan. Sebanyak 13 klenteng berasal dari Semarang, sedangkan peserta lainnya datang dari berbagai daerah seperti Malang, Jakarta, Bekasi, Ambarawa, Ungaran hingga Mranggen.
Kehadiran peserta lintas daerah tersebut menunjukkan bahwa tradisi Sam Poo Tay Djien tidak hanya memiliki arti bagi masyarakat Semarang, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi komunitas budaya dari berbagai wilayah.
“Yang saya banggakan peserta arak-arakan ada 20 klenteng hari ini. Dari Semarang ada 13, paling banyak. Keterlibatan berbagai daerah memberikan warna tersendiri bagi penyelenggaraan festival. Ini memberi tambahan nilai, selain ini adalah tradisi yang menguatkan kita di Kota Semarang, juga memberikan hiburan dan memberikan keindahan bagi masyarakat di luar Kota Semarang,” ujar Walikota Semarang.
Ia juga menyampaikan bahwa Festival Arak-arakan Cheng Ho telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan tersebut, menurutnya, harus menjadi energi baru untuk menjaga kesinambungan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
“Semoga pengakuan tersebut mendorong kita untuk terus bersemangat, menjaga tradisi, memperkenalkannya kepada generasi muda dan mengembangkan sebagai bagian dari kekuatan budaya dan pariwisata Kota Semarang,” pungkasnya.
Kirab yang bergerak dari Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong dan kembali ke kawasan Pecinan seolah menjadi perjalanan simbolik: membawa warisan masa lalu untuk terus berjalan bersama kehidupan masa kini. Dari generasi tua kepada generasi muda, dari Semarang kepada berbagai daerah, serta dari sejarah kepada masa depan.
Baca juga : 25 Ormas Tampil di Kick Off Kinerja Ormas 2026, Bankom Semarang Suguhkan Aksi Kemanusiaan Nyata
Pada akhirnya, Kirab Cheng Ho ke-621 bukan sekadar arak-arakan budaya. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah tradisi dipertahankan, bagaimana keberagaman dirawat, dan bagaimana sejarah tetap diberi ruang untuk hidup di tengah perubahan zaman. (ADC)




